5 hindia belanda - 3 years ago
(Translated by Google) In 1938, Toko Nam was demolished and became a two-story Art Deco-style building. However, it is no longer occupied by Toko Nam, but has become Toko Kwang. When it became Toko Kwang, this was the form of the building that can be seen until now called the Pers Perjuangan Monument.
During the Japanese occupation, the Kwang Shop was taken over by the Japanese, and since then, Kwang Shop has not been heard of again. After the Japanese surrendered to the Allies, and began to leave Surabaya, the former Kwang Shop began to be emptied. On September 1, 1945, indigenous journalists who used to work at the Japanese-owned Domei News Agency attempted to establish an Indonesian News Agency located in this building. In October 1945 the Indonesian News Agency in Surabaya was integrated into part of the Antara News Agency, thus becoming the Surabaya branch of the ANTARA News Agency.
(Original)
Pada tahun 1938, Toko Nam dibongkar dan menjadi bangunan dua lantai bergaya Art Deco. Namun sudah tidak ditempati lagi oleh Toko Nam, melainkan menjadi Toko Kwang. Pada saat menjadi Toko Kwang inilah yang merupakan wujud bangunan yang bisa dilihat sampai sekarang yang bernama Monumen Pers Perjuangan.
Pada masa pendudukan Jepang, Toko Kwang ini diambil alih oleh Jepang, dan sejak itu tak lagi terdengar Toko Kwang lagi. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, dan mulai hengkang dari Surabaya, bekas Toko Kwang mulai dikosongkan. Pada 1 September 1945, para wartawan pribumi yang dulunya bekerja di Kantor Berita Domei milik Jepang berusaha mendirikan Kantor Berita Indonesia bertempat di gedung ini. Pada Oktober 1945 Kantor Berita Indonesia di Surabaya diintegrasikan menjadi bagian dari Lembaga Kantor Berita Antara, sehingga menjadilah Kantor Berita ANTARA cabang Surabaya.Situsbudaya