Religious Tourism MAmpel

Jl. Ampel Masjid No.53, Ampel, Kec. Semampir, Kota SBY, Jawa Timur 60151, Indonesia
Tourist attraction
User Reviews

5 Aulia Yusuf - 3 years ago

Mbah Ampel member of Wali Songo @Java island.
Become head of Wali Songo (elder or senior between Wali Songo).

And this place is tomb of Sunan Ampel u0026 his wife.
Another tomb at this block are Mbah Sholeh (who dying for 9 times), mbah Bolong (mbah Son Haji) u0026 Kyai Muhammad bin Yusuf. Another tomb are follower u0026 santri of Sunan Ampel.

#letsguide

5 Ssakinah Basyrewan - 4 years ago

The best

5 Aufal Marom - 3 years ago

Nice to pray

4 lincak69 - 8 months ago

(Translated by Google) Assalamualaikum everyone, #CeritaPerjalanan
Instagram @lincak9 Youtube @lincak69 If you see this review, please like, follow and subscribe.

Okay, let me tell you about my trip, this is the 3rd time I've been here, weekdays or holidays are still busy, thank God I can come here, hopefully every half year I can continue to come here

Okay, that's all and thank you, wassalamu'alaikum.

(Original)
Assalamualaikum lur, #CeritaPerjalanan
Instagram @lincak9 Youtube @lincak69 lur kalau liat ulasan ini like yaa, follow dan subscribe yaa.

Oke lur mari saya ceritakan perjalanan saya langsung saja lur ini ke 3 kalai saya kesini, hari biasa ataupun libur tetep rame, alhamdulillah bisa kesini, mudah-mudahan setiap setengah tahun bisa kesini terus

Oke lur sekian dan terimakasih wassalamu'alaikum lur.

5 Rizal Choiril - 4 years ago

(Translated by Google) Sunan Ampel is one of the saints among the Walisongo who spread the teachings of Islam in Java. He was born 1401 in Champa. There are two opinions about the location of this Champa. The Encyclopedia Van Nederlandesh Indie says that Champa is a small country located in Cambodia. Another opinion, Raffles said that Champa is located in Aceh which is now named JEUMPA. According to some accounts, Raden Rahmat's parents, another name for Sunan Ampel, were Maulana Malik Ibrahim (son -in -law of Sultan Champa and brother -in -law of Dwarawati). In the Chinese Chronicle of the Sam Po Kong Temple, Sunan Ampel is known as Bong Swi Hoo, the grandson of Haji Bong Tak Keng - a Chinese (Hanafi Muslim Hui tribe) who was appointed Leader of the Chinese Community in Champa by Sam Po Bo. While His Majesty Ma Hong Fu - son -in -law of Haji Bong Tak Keng was placed as the Chinese ambassador in the center of the Majapahit kingdom, while Haji Gan En Cu was also assigned as the Chinese captain in Tuban. Haji Gan En Cu later placed his son -in -law Bong Swi Hoo as Chinese captain at Jiaotung (Bangil). [1] [2]

Meanwhile, a daughter from Kyai Bantong (version of Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat according to Purwaka Caruban Nagari) married Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) and gave birth to Raden Fatah. However, it is not known if there is a connection between Ma Hong Fu and Kyai Bantong.

In Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel called Sayyid Rahmad is the niece of Princess Champa, queen of King Brawijaya, who is a Muslim.

Raden Rahmat and Raden Santri are the children of Makhdum Ibrahim (son of Haji Bong Tak Keng), a descendant of the Hui tribe of Yunnan which is a mixture of Han/Chinese with Arabs and Central Asia (Samarkand/Asmarakandi). Raden Rahmat, Raden Santri and Raden Burereh/Abu Hurairah (granddaughter of the king of Champa) went to Majapahit to visit their aunt named Dwarawati, the daughter of the king of Champa who became the queen of the king of Brawijaya. King Champa at that time was a convert. Raden Rahmat, Raden Santri and Raden Burereh finally did not return to their country because the Champa Kingdom was destroyed by the Veit Nam Kingdom.

According to Hikayat Banjar and Kotawaringin (u003d Hikayat Banjar review I), Sunan Ampel's real name was Raja Bungsu, the son of Sultan Pasai. He came to Majapahit to follow/see his sister who was taken as his wife by the King of Mapajahit. The King of Majapahit at that time was named Dipati Hangrok with his mangkubumi Patih Maudara (later Brawijaya VII).

(Original)
Sunan Ampel adalah salah seorang wali di antara Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Ia lahir 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Raden Rahmat, nama lain Sunan Ampel, adalah Maulana Malik Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati). Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu - menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil).[1][2]

Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) kemudian melahirkan Raden Fatah. Namun tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.

Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.

Raden Rahmat dan Raden Santri adalah anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan suku Hui dari Yunnan yang merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Arab dan Asia Tengah (Samarkand/Asmarakandi). Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh/Abu Hurairah (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati puteri raja Champa yang menjadi permaisuri raja Brawijaya. Raja Champa saat itu merupakan seorang muallaf. Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh akhirnya tidak kembali ke negerinya karena Kerajaan Champa dihancurkan oleh Kerajaan Veit Nam.

Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (u003d Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Dia datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil istri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara (kelak Brawijaya VII) .

5 cak har - 4 years ago

(Translated by Google) Ziaroh to Maqom Sunan Ampel. Along the road to the mosque there are also many traders selling various kinds of foods and Islamic specialties. Such as dates, Zamzam water, Al-Qur'an, prayer beads, prayer equipment and more.

(Original)
Ziaroh ke Maqom sunan Ampel. Di sepanjang jalan menuju masjid ini juga banyak pedagang berjualan berbagai macam makanan dan barang khas islami. Seperti kurma, air zamzam, Al-Qur'an, tasbih, peralatan sholat dan lainnya.

5 Alif Rizal - 3 years ago

(Translated by Google) Sunan Ampel was one of the guardians among the Walisongo who spread Islamic teachings on the island of Java. He was born in 1401 in Champa. There are two opinions regarding the location of this Champa. The Van Nederlandesh Indie Encyclopedia says that Champa is a small country located in Cambodia. Another opinion, Raffles stated that Champa is located in Aceh which is now called Jeumpa. According to some narrations, Raden Rahmat's parents, another name for Sunan Ampel, were Maulana Malik Ibrahim (Sultan Champa's son-in-law and Dwarawati's brother-in-law). In the Chinese Chronicle from the Sam Po Kong Temple, Sunan Ampel is known as Bong Swi Hoo, the grandson of Haji Bong Tak Keng - a Chinese (Hui ethnic Muslim Hanafi sect) who was assigned as Leader of the Chinese Community in Champa by Sam Po Bo. While His Majesty Ma Hong Fu - the son-in-law of Haji Bong Tak Keng was placed as the Chinese ambassador in the center of the Majapahit kingdom, while Haji Gan En Cu had also been assigned as the Chinese captain in Tuban. Haji Gan En Cu then placed his son-in-law Bong Swi Hoo as the Chinese captain in Jiaotung (Bangil).

Meanwhile, a daughter of Kyai Bantong (Babad Tanah Jawi version) alias Shaykh Bantong (aka Tan Go Hwat according to Purwaka Caruban Nagari) married Prabu Brawijaya V (aka Bhre Kertabhumi) and gave birth to Raden Fatah. However, it is not known whether there is a connection between Ma Hong Fu and Kyai Bantong.

(Original)
Sunan Ampel adalah salah seorang wali di antara Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Ia lahir 1401di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Rafflesmenyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Raden Rahmat, nama lain Sunan Ampel, adalah Maulana Malik Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati). Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu - menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil).

Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) kemudian melahirkan Raden Fatah. Namun tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.

Map Location
Nearby Places

Oude Minaret van de Soenan Ampel-moskee in Soerabaia
Jl. Ampel Gg. Masjid No.53, RT.001/RW.03, Ampel, Semampir, Surabaya City, East Java 60151, Indonesia

Sunan Ampel Great Mosque
Jl. Ampel Masjid No.53, Ampel, Kec. Semampir, Kota SBY, Jawa Timur 60151, Indonesia

Hotel Syariah Walisongo Surabaya
Jl. Petukangan No.26-30, Ampel, Kec. Semampir, Kota SBY, Jawa Timur 60162, Indonesia

Graha Teras Syariah
jalan, Jl. Ampel Lonceng No.22, RT.001/RW.04, Ampel, Semampir, Surabaya City, East Java 60151, Indonesia

Keluarga Besar H. Abdurrahman
Jl. Ampel Blumbang No.24, RT.005/RW.03, Ampel, Kec. Semampir, Kota SBY, Jawa Timur 60151, Indonesia

Pintu masuk Masjid Agung Ampel
QPCR+6HC, Jl. Petukangan Utara, Nyamplungan, Kec. Pabean Cantikan, Kota SBY, Jawa Timur 60162, Indonesia

Lazizaa Ampel
Jl. KH Mas Mansyur, Ampel, Kec. Semampir, Kota SBY, Jawa Timur 60162, Indonesia

Grand Kalimas Hotel Syariah
Jl. KH Mas Mansyur No.151, Nyamplungan, Kec. Pabean Cantikan, Kota SBY, Jawa Timur 60162, Indonesia

ZEN Rooms Kalimas KH Mas Mansyur
Jl. KH Mas Mansyur No.151, Nyamplungan, Kec. Pabean Cantikan, Kota SBY, Jawa Timur 60162, Indonesia

Mushola Darussalam
QP9R+4GG, Ampel Sawahan 1, Ampel, Kec. Semampir, Kota SBY, Jawa Timur 60151, Indonesia