5
Rizal Choiril -
4 years ago
(Translated by Google) Sunan Ampel is one of the saints among the Walisongo who spread the teachings of Islam in Java. He was born 1401 in Champa. There are two opinions about the location of this Champa. The Encyclopedia Van Nederlandesh Indie says that Champa is a small country located in Cambodia. Another opinion, Raffles said that Champa is located in Aceh which is now named JEUMPA. According to some accounts, Raden Rahmat's parents, another name for Sunan Ampel, were Maulana Malik Ibrahim (son -in -law of Sultan Champa and brother -in -law of Dwarawati). In the Chinese Chronicle of the Sam Po Kong Temple, Sunan Ampel is known as Bong Swi Hoo, the grandson of Haji Bong Tak Keng - a Chinese (Hanafi Muslim Hui tribe) who was appointed Leader of the Chinese Community in Champa by Sam Po Bo. While His Majesty Ma Hong Fu - son -in -law of Haji Bong Tak Keng was placed as the Chinese ambassador in the center of the Majapahit kingdom, while Haji Gan En Cu was also assigned as the Chinese captain in Tuban. Haji Gan En Cu later placed his son -in -law Bong Swi Hoo as Chinese captain at Jiaotung (Bangil). [1] [2]
Meanwhile, a daughter from Kyai Bantong (version of Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat according to Purwaka Caruban Nagari) married Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) and gave birth to Raden Fatah. However, it is not known if there is a connection between Ma Hong Fu and Kyai Bantong.
In Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel called Sayyid Rahmad is the niece of Princess Champa, queen of King Brawijaya, who is a Muslim.
Raden Rahmat and Raden Santri are the children of Makhdum Ibrahim (son of Haji Bong Tak Keng), a descendant of the Hui tribe of Yunnan which is a mixture of Han/Chinese with Arabs and Central Asia (Samarkand/Asmarakandi). Raden Rahmat, Raden Santri and Raden Burereh/Abu Hurairah (granddaughter of the king of Champa) went to Majapahit to visit their aunt named Dwarawati, the daughter of the king of Champa who became the queen of the king of Brawijaya. King Champa at that time was a convert. Raden Rahmat, Raden Santri and Raden Burereh finally did not return to their country because the Champa Kingdom was destroyed by the Veit Nam Kingdom.
According to Hikayat Banjar and Kotawaringin (u003d Hikayat Banjar review I), Sunan Ampel's real name was Raja Bungsu, the son of Sultan Pasai. He came to Majapahit to follow/see his sister who was taken as his wife by the King of Mapajahit. The King of Majapahit at that time was named Dipati Hangrok with his mangkubumi Patih Maudara (later Brawijaya VII).
(Original)
Sunan Ampel adalah salah seorang wali di antara Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Ia lahir 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Raden Rahmat, nama lain Sunan Ampel, adalah Maulana Malik Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati). Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu - menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil).[1][2]
Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) kemudian melahirkan Raden Fatah. Namun tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.
Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.
Raden Rahmat dan Raden Santri adalah anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan suku Hui dari Yunnan yang merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Arab dan Asia Tengah (Samarkand/Asmarakandi). Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh/Abu Hurairah (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati puteri raja Champa yang menjadi permaisuri raja Brawijaya. Raja Champa saat itu merupakan seorang muallaf. Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh akhirnya tidak kembali ke negerinya karena Kerajaan Champa dihancurkan oleh Kerajaan Veit Nam.
Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (u003d Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Dia datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil istri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara (kelak Brawijaya VII) .